
Sore itu dibawah langit mendung Kelurahan Lewolere, hujan turun perlahan namun tidak Lebat. Tepatnya tanggal 15 Desember 2025, di sebuah rumah sederhana di KBG Raturosari, justru tumbuh kehangatan, tawa, dan rasa bangga. Tiga belas perempuan duduk melingkar, menutup satu siklus perjalanan yang telah mereka bangun bersama sejak 12 April 2025.
Mereka menamakan diri Komunitas SILC Sorong Hode Lewo, yang pada awal pembentukannya didampingi oleh Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) sebagai bagian dari upaya penguatan kemandirian ekonomi perempuan di tingkat komunitas sebagaimana tercantum dalam salah satu Misi YPPS tentang Mengembangkan dan Mempromosikan Model-Model Pengelolaan Ecosystem Pulau-Pulau Kecil Secara Ramah, Berkelanjutan dan Menjamin Keutuhan Ciptaan tepatnya Bidang Microfinance.
Semua bermula dari keputusan sederhana: menyisihkan uang minimal Rp10.000 setiap minggu, ditambah dana sosial Rp2.000. Tidak ada paksaan untuk menabung besar, tidak ada syarat rumit, hanya komitmen dan kepercayaan satu sama lain. Transaksi dilakukan setiap hari Sabtu, tepat waktu, dengan disiplin yang mereka jaga bersama.
Siapa sangka, dari kebiasaan kecil itu, hingga akhir siklus mereka berhasil mengumpulkan aset sebesar Rp35.183.000. Angka yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, tetapi sangat berarti bagi perempuan-perempuan yang sebelumnya harus bergantung pada pinjaman bank atau koperasi harian dengan bunga dan syarat yang memberatkan.
Lebih dari sekadar menabung, SILC menjadi ruang saling peduli. Dana sosial yang terkumpul mencapai Rp700.000, dan langsung dimanfaatkan untuk membantu anggota yang keluarganya berduka. Sisanya disiapkan untuk membantu para ibu yang hidup dalam keterbatasan, terutama mereka yang harus membesarkan anak tanpa pasangan. Di sinilah solidaritas berubah menjadi aksi nyata.
Bagi Ibu Kristina Gernes Kerans, yang memiliki aset tertinggi sebesar Rp6.700.000, SILC membuka jalan menuju mimpi yang lebih besar. Ia berencana membeli anak babi untuk diternakkan sebagai sumber penghasilan baru bagi keluarganya. Tabungan bukan lagi sekadar disimpan, tetapi menjadi modal untuk melangkah lebih jauh.
Sementara itu, Ibu Ana Peni Hayon mengenang masa lalu ketika ia harus sering meminjam uang dari bank atau koperasi. Kini, melalui SILC, ia belajar menabung, mengatur keuangan, dan percaya bahwa uang sedikit pun akan bernilai jika dikumpulkan bersama. “Dari sedikit, jadi banyak,” itulah prinsip yang kini ia pegang.
Hal serupa dirasakan Ibu Rosali Kleden, yang berhasil mengumpulkan aset sebesar Rp2.500.000. Ia tak lagi harus pergi ke bank, tak lagi takut dengan syarat pinjaman. SILC membuatnya lebih hemat, lebih berani bermimpi, dan lebih tenang menghadapi kebutuhan mendadak.

Yang paling mengharukan, perubahan ini tidak berhenti di dalam kelompok. Seorang anggota keluarga yang menyaksikan proses transaksi hari itu menyatakan keinginannya untuk membentuk kelompok SILC baru. Artinya, semangat kemandirian mulai menular, menyebar dari satu lingkaran kecil perempuan ke lingkaran yang lebih luas di masyarakat.
Sebelum berpisah, para anggota tidak hanya merayakan hasil, tetapi juga merancang masa depan. Mereka sepakat untuk menambah anggota dan melakukan penyegaran pemahaman tentang konsep SILC di awal siklus baru. Bagi mereka, keberlanjutan lebih penting daripada sekadar pencapaian sesaat.
Kisah Komunitas SILC Sorong Hode Lewo membuktikan satu hal penting: perubahan besar tidak selalu dimulai dari modal besar, tetapi dari keberanian untuk memulai, disiplin untuk konsisten, dan kekuatan untuk saling percaya. Dari Rp10.000 setiap minggu, lahirlah harapan, keberanian, dan jalan menuju kemandirian perempuan di Lewolere.
Penulis: SP Pati Hokor/Tim Ypps









