
Sebuah langkah nyata kemandirian ekonomi umat muncul dari lingkungan Kelompok Basis Gereja (KBG) St. Gabriel Lewolere, Paroki St Ignatius Wiabalun, setelah terbentuknya kelompok Saving and Internal Lending Community (SILC) pada April 2025. Hingga transaksi ke-13 per 2 Juli 2025, kelompok ini telah berhasil memiliki asset sebesar Rp20.096.000, dengan Rp5.155.000 tersimpan sebagai saldo kas dan sisanya bergulir diantara anggota sebagai pinjaman.
Pembentukan kelompok ini bermula dari sosialisasi dalam rapat pleno Paroki Santo Ignasius Waibalun yang mengangkat tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) yakni “Menghadirkan Gereja yang mandiri dan misioner dalam satu kawanan dengan satu gembala”menjelang Paskah 2025. Salah satu penjabaran Thema APP tahun ini adalah penekanan pada kemandirian ekonomi umat basis. Informasi tersebut menjadi bahan diskusi umat KBG St. Gabriel dalam pertemuan rutin mereka, hingga disepakati untuk menjadikan SILC sebagai aksi nyata umat dalam menjawab tantangan ekonomi.
Sebagai tindak lanjut, Ketua KBG St. Gabriel mengundang Direktur YPPS(melkhior Koli Baran) untuk memberikan sosialisasi lanjutan. Hasilnya, dibentuklah kelompok SILC yang anggotanya 25 orang umat, terdiri atas 12 laki-laki dan 13 perempuan. Sebagian besar anggota merupakan pegawai negeri sipil, termasuk Kepala Badan Kesbangpol Flores Timur, Bapak Laurensius Yitno Wada.
Proses pembentukan kelompok diawali dengan penyusunan konstitusi dan pemilihan pengurus. Martinus Igo Mado (50 tahun), seorang PNS dari Inspektorat Daerah, terpilih sebagai ketua. Transaksi SILC dilakukan setiap malam usai doa KBG pukul 20.00 WITA. Pertemuan ini dilaksanakan secara bergilir dari rumah ke rumah mengikuti jadwal doa, guna mendorong keterlibatan aktif seluruh anggota.
Dana yang dihimpun digunakan untuk pinjaman internal antar anggota. Mayoritas pinjaman dimanfaatkan untuk biaya pendidikan anak. Ada pula anggota yang menggunakan dana untuk modal usaha kecil, seperti Yosefina Bara Naga, guru yang berjualan gorengan di sekolahnya Begitu juga Bapak Rafael Tukan yang meminjam dana untuk usaha budidaya dan penjualan sayuran.
Untuk Bapak Rafael Tukan sudah tiga tiga kali meminjam. Menariknya nilainya terus meningkat. Awalnya dia melakukan pinjaman sebesar Rp 150.000,- dengan motivasi ”coba-coba’. Pinjaman kedua Rp 600.000,- dan terakhir Rp 1.500.000,-.
“Kami tidak perlu lagi mencari pinjaman di luar. Cukup dari kelompok. Hampir semua anggota sudah pernah meminjam, dan ini sangat membantu, terutama untuk kebutuhan sekolah anak,” ujar Ketua SILC, Martinus Igo Mado. Ia juga menambahkan, SILC membantu umat terhindar dari ketergantungan pada pinjaman koperasi harian dan lembaga keuangan lain yang cukup banyak nasabahnya di wilayah Lewolere.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Salah satunya terkait konsistensi jadwal transaksi yang semula direncanakan setiap hari Rabu. Karena adanya kedukaan atau kegiatan sosial lainnya, jadwal sering kali harus disesuaikan. Namun demikian, kelompok tetap berkomitmen untuk melakukan transaksi minimal sekali dalam seminggu.
Penulis: Karolus K. Ola & SP Pati Hokor/ YPPS










