
Bulan Mei 2026 menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya, Magdalena Rianghepat. Saya mendapat kesempatan dari ChildFund International di Indonesia untuk mengikuti Community-Based Adaptation Conference (CBA20) di Manila, Filipina, yang berlangsung pada 11–14 Mei 2026.
Perjalanan ini terasa semakin bermakna karena saya tidak berangkat sendiri. Saya mendampingi salah satu anggota komunitas SALAM dari Komunitas Ile Bele, Desa Kolaka, yaitu Maria Anna L. Hayon atau yang akrab disapa Rianti. Di usianya yang baru 13 tahun, ini merupakan pengalaman pertamanya bepergian jauh, pertama kali naik pesawat ke luar negeri, sekaligus pertama kalinya berada jauh dari keluarga dalam waktu yang cukup lama.
Sejak awal, banyak hal yang harus kami persiapkan bersama. Karena Rianti masih berusia di bawah umur, berbagai persyaratan administrasi perlu diselesaikan, mulai dari izin perjalanan hingga dokumen pendukung lainnya. Namun, di balik proses tersebut, saya melihat semangat dan keberanian seorang anak muda desa yang siap melangkah keluar dari kampung halamannya untuk belajar tentang perubahan iklim bersama masyarakat dunia.
Perjalanan ini juga menghadirkan tantangan bagi kami berdua. Selain harus belajar lebih mandiri, kami menghadapi keterbatasan dalam berbahasa Inggris. Tidak jarang kami harus saling memastikan kembali informasi yang kami dengar atau memahami materi melalui catatan dan diskusi kecil setelah setiap sesi berakhir. Meski demikian, pengalaman tersebut membuka wawasan kami bahwa banyak komunitas di berbagai negara memiliki keresahan, harapan, dan upaya yang serupa dengan apa yang selama ini kami lakukan di Flores Timur.
Hari pertama CBA20 diawali dengan pembukaan workshop dan pengenalan berbagai lembaga serta komunitas yang bergerak dalam isu perubahan iklim. Kami mendengarkan pemaparan dari berbagai organisasi, seperti Save the Children yang melibatkan siswa sekolah menengah atas dalam pemantauan cuaca menggunakan alat sederhana berbasis otomatisasi, Samdhana Institute yang bekerja bersama masyarakat adat di Papua, serta WaterID yang mengembangkan sistem asuransi untuk membantu masyarakat menghadapi risiko iklim, seperti banjir yang berdampak pada sektor pertanian dan mata pencaharian.
Berbagai sesi tersebut membuka perspektif baru bagi kami. Kami menyadari bahwa setiap komunitas memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan iklim, sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan potensi yang dimiliki.
Malam harinya menjadi salah satu momen yang paling berkesan. Setelah pertunjukan budaya khas Filipina, kami mendapat kesempatan untuk mempresentasikan poster yang kami bawa. Banyak peserta datang untuk bertanya, berdiskusi, dan menunjukkan ketertarikan terhadap cerita dari Flores Timur. Kami berbagi pengalaman tentang bagaimana masyarakat membangun pengetahuan lokal dalam menghadapi perubahan iklim serta bagaimana perempuan dan anak muda mengambil peran dalam berbagai aksi adaptasi di tingkat komunitas.

Meskipun suasana malam itu sangat meriah dan menyenangkan, kami sedikit kecewa karena tidak sempat melihat poster dari organisasi lain. Waktu yang terbatas dan padatnya kegiatan membuat kami harus mengakhiri hari dengan beristirahat.
Hari kedua diisi dengan berbagai sesi workshop yang lebih mendalam. Salah satu yang paling menarik perhatian kami adalah praktik pemberdayaan masyarakat adat yang dilakukan oleh Nepal Red Cross Society melalui pertanian adaptif. Mereka berbagi pengalaman tentang budidaya semangka di lahan berpasir yang berhasil menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat pedalaman.
Metode diskusi yang digunakan juga sangat menarik, yaitu pendekatan world café. Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan berdiskusi langsung dengan para narasumber. Suasana diskusi menjadi lebih cair dan interaktif. Kami dapat mengajukan pertanyaan secara langsung, mendengarkan pengalaman lapangan secara lebih rinci, kemudian membagikan hasil diskusi kepada peserta lainnya dalam forum bersama.
Pendekatan ini membuat proses pembelajaran terasa lebih hidup karena kami tidak hanya mendengarkan presentasi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses berbagi pengetahuan.
Hari ketiga menjadi pengalaman lapangan yang paling membekas. Bersama rombongan kelompok satu, kami mengunjungi komunitas dampingan Kabalikat sa Kaunlaran ng Baseco, Katuwang-Kaagapay di kawasan pesisir padat penduduk di Manila. Wilayah tersebut menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya kepadatan penduduk hingga perubahan garis pantai akibat pembangunan kota.
Di sana kami melihat bagaimana masyarakat terus berupaya menjaga lingkungannya. Mereka menanam kembali mangrove, mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta mengelola bank sampah yang melibatkan banyak rumah tangga. Sampah plastik dipilah untuk dijadikan kerajinan atau dijual kembali kepada pengepul. Bahkan minyak goreng bekas diolah menjadi sabun mandi agar dapat dimanfaatkan kembali.
Kami juga mengunjungi kawasan hunian baru yang dibangun pemerintah untuk mengurangi kepadatan permukiman. Rumah susun dua lantai tersebut nantinya akan disewakan kepada masyarakat dengan biaya yang disesuaikan berdasarkan hasil asesmen pendapatan masing-masing keluarga. Pendekatan ini terasa sangat manusiawi karena mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat. Saat ini sekitar 100 unit telah selesai dibangun, sementara keluarga lainnya masih menempati hunian sementara sambil menunggu pembangunan tahap berikutnya.
Di tengah kunjungan tersebut, saya beberapa kali memperhatikan Rianti. Anak yang pada awal perjalanan menangis karena takut dan rindu keluarga itu perlahan mulai menunjukkan kepercayaan diri yang lebih besar. Ia mulai aktif bertanya, tersenyum saat berdiskusi dengan peserta lain, dan menikmati setiap pengalaman baru yang ditemuinya.
Salah satu momen yang paling membanggakan adalah ketika Rianti mendapat kesempatan untuk mengikuti tarian bambu khas Filipina yang dikenal dengan nama Tinikling. Tarian tradisional ini menggunakan dua batang bambu yang digerakkan secara berirama di lantai, sementara para penari melompat mengikuti pola gerakannya.
Menariknya, kami merasa memiliki kedekatan dengan tarian tersebut karena memiliki kemiripan dengan tarian Gawi Au dari Flores Timur. Saat melihat Rianti menari bersama peserta dari berbagai negara, saya menyadari bahwa budaya dapat menjadi bahasa universal yang menyatukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.
Hari terakhir CBA20 kembali dilaksanakan di aula utama. Seluruh peserta berkumpul untuk membahas hasil kunjungan lapangan serta berbagai praktik baik yang ditemukan oleh sebelas kelompok yang tersebar di berbagai lokasi pembelajaran.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan refleksi mengenai perjalanan 19 tahun CBA dan arah gerakan adaptasi berbasis komunitas di masa depan, terutama dalam menghadapi tantangan global dan kondisi lokal yang terus berubah. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, seperti perwakilan pemerintah, lembaga pendanaan, masyarakat adat, organisasi internasional, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok lainnya, untuk merumuskan pesan-pesan penting yang perlu terus disuarakan bersama.
Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, saya belajar bahwa komunitas memiliki kekuatan yang besar dalam menghadapi perubahan iklim. Pengetahuan lokal, semangat gotong royong, dan keberanian untuk bergerak bersama merupakan modal penting yang sering kali lahir dari masyarakat akar rumput.
Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar menghadiri konferensi internasional. Perjalanan ini adalah kesempatan untuk mendampingi seorang anak muda desa melihat dunia yang lebih luas, belajar bagaimana suaranya memiliki arti, serta menyadari adanya pengalaman komunitas kecil di Flores Timur juga dapat menjadi bagian dari percakapan global tentang masa depan bumi.
Bagi Rianti, mungkin ini bukan hanya perjalanan pertamanya ke luar negeri. Perjalanan ini bisa menjadi langkah kecil yang kelak membuka jalan menuju berbagai mimpi besar di masa depan.
Penulis: Magda Rianghepat/ Ypps
Editor: SP Pati Hokor/ Ypps



