
Perubahan menuju transisi energi di Flores Timur tidak selalu dimulai dari teknologi, tetapi dari perempuan yang berani mengambil keputusan bagi keluarganya. Melalui Program WE for JET (Women and Vulnerable Groups Lead on Transformative and Just Energy Transition in Indonesia) yang dilaksanakan YPPS(Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial) kerjasama Oxfam-Penabulu, perempuan didorong menjadi penggerak utama transisi energi yang adil melalui penguatan ekonomi, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga.
Salah satu buktinya hadir melalui SILC Perkarin di Desa Homa yang dibentuk pada 1 September 2024. Beranggotakan 22 orang, terdiri atas 18 perempuan dan 4 laki-laki, kelompok ini menunjukkan perempuan menjadi kekuatan utama dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga. Pada periode pertama, SILC berhasil membukukan aset sebesar Rp20.448.000. Memasuki periode kedua yang ditutup pada 17 Juni 2026, total aset meningkat menjadi Rp62.689.000, atau lebih dari tiga kali lipat. Sejak transaksi pertama pada 15 Juni 2025, dana yang berputar melalui pinjaman anggota telah menjadi modal penting bagi pengembangan usaha dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
Keberhasilan tersebut mendapat perhatian dari RD. Yansen Raring, Pastor Rekan Paroki Waiwadan, yang diundang mewakili Paroki Waiwadan untuk menghadiri penutupan Siklus II SILC Perkarin. Dalam jurnal yang ditulisnya setelah kegiatan, ia menyebut SILC bukan sekadar kelompok simpan pinjam, tetapi sebuah komunitas transformatif yang menghidupkan aset keluarga, membangun disiplin, memperkuat solidaritas, serta menjadi ruang perlindungan bagi masyarakat saat menghadapi kesulitan ekonomi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada YPPS yang telah membidani lahirnya komunitas-komunitas SILC di wilayah Paroki Waiwadan.
Perubahan paling nyata terlihat pada perempuan anggota SILC; Maria Dalu Werang, pemilik aset terbesar dengan tabungan Rp10.094.000, berhasil membangun tabungannya melalui usaha kopra, arang, dan penjualan ayam. Tabungan tersebut dipersiapkan sebagai jaminan masa tua bersama suaminya. Katarina Gunu Werang, dengan aset Rp6.142.000, memanfaatkan pinjaman untuk membiayai pendidikan anaknya di perguruan tinggi. Sementara Aleksia Bota Kuman berhasil menghimpun aset sebesar Rp6.120.000, mencerminkan konsistensi perempuan dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga melalui budaya menabung.

Perempuan juga menjadi pengguna utama pembiayaan produktif. Tiga peminjam terbesar adalah Sidalia Reme dan Maria Regina A. Bayun yang masing-masing memperoleh pinjaman sebesar Rp6.500.000, serta Maria Agustina Pera Dobe sebesar Rp6.000.000. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha, memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, dan memenuhi kebutuhan penting, sehingga perempuan semakin berperan sebagai pengambil keputusan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.
Selain membangun kekuatan ekonomi, SILC Perkarin juga memperkuat solidaritas sosial. Kelompok ini berhasil menghimpun Dana Sosial sebesar Rp3.700.000 yang digunakan untuk membantu anggota yang mengalami kedukaan maupun sakit. Hingga akhir periode kedua, dana sosial yang masih tersisa sebesar Rp795.000, menjadi bukti semangat gotong royong tumbuh seiring meningkatnya kemandirian ekonomi anggota.
Pengalaman SILC Perkarin menunjukkan transisi energi yang adil bukan hanya tentang pemanfaatan energi terbarukan, tetapi juga tentang memperkuat kepemimpinan perempuan. Ketika perempuan memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi, mampu mengelola aset, memanfaatkan pembiayaan secara produktif, dan mengambil keputusan bagi keluarganya, mereka menjadi motor penggerak perubahan. Dari ruang-ruang pertemuan sederhana di Desa Homa, perempuan membuktikan ketahanan ekonomi keluarga adalah fondasi penting menuju transisi energi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Penulis: SP Pati Hokor/Ypps
Suport data: Titin Lamawato/ Fasilitator YPPS







