Kawan YPPS
  • Home
  • Program YPPS
  • News
  • Profil YPPS
    • Sejarah
    • Kemitraan
    • Kondisi Terkini
No Result
View All Result
  • Home
  • Program YPPS
  • News
  • Profil YPPS
    • Sejarah
    • Kemitraan
    • Kondisi Terkini
No Result
View All Result
Kawan YPPS
No Result
View All Result
Home Campaign
Dominikus Dosi Beribe: Berkebun Tanpa Bahan Kimia

Dominikus Dosi Beribe: Berkebun Tanpa Bahan Kimia

KawanYPPS by KawanYPPS
November 11, 2022
in Campaign, Program YPPS
0
0
SHARES
49
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di era gencarnya penggunaan pupuk kimia yang ditawarkan demi mempercepat pertumbuhan tanaman, Bapak Dominikus Dosi Beribe petani asal desa Blepanawa ini tetap mempertahankan sistem pertanian yang menerapkan teknik mulsa organik.

Dominikus Dosi Beribe: Berkebun tanpa Menggunakan Bahan Kimia
Bapak Domikus Dosi Beribe bersama istri Wilhelmina Ruk Keraf sedang istirahat di kebun.

Mulsa organik merupakan material yang menutup tanaman budidaya guna menjaga agar tanah tetap lembap serta menekan pertumbuhan gulma dan menjaga tanaman terhindar dari penyakit sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Sejak tahun 70-an Bapak Domi, begitulah ia akrab disapa tetap mempertahankan sistem pertanian ini. “Bapa sudah mulai berkebun tanpa menggunakan bahan kimia sejak lama bahkan sebelum nikah. Bapa mengikuti apa yang sudah dibuat oleh orang tua dahulu.” tutur bapak Domi. Bapak Domi tidak pernah membakar sisa hasil panennya (padi dan jagung) tiap musim. Hasil panen tersebut dibiarkan saja di atas permukaan tanah setelah dicabut. Dengan kata lain, Bapak empat anak ini telah menerapkan teknik Mulsa Organik untuk menjaga kelembapan tanah, menahan erosi, menekan pertumbuhan rumput dan menciptakan humus baru.

Hasil Panen Dua Tahun Lalu Masih Ada!

Kondisi tanah di kebun milik Bapak Domi – mulsa telah hancur menjadi humus tanah baru.

Bapak Dominikus Dosi Beribe adalah petani yang telah melanglang buana bukan saja di kota Nusa Kencana (Kalimantan, Indonesia) melainkan hingga ke negeri Jiran. Ilmu dan pengalaman di tanah rantau tak hilang begitu saja namun ia terapkan di kebun miliknya sekarang. “Bapa dulu di Kalimantan kalau disuruh beli sawi, bapa selalu membeli sawi yang sudah dimakan ulat ketimbang yang tidak ada ulat. Karena bapa berpikir begini, Sawi yang dimakan ulat adalah sawi yang tidak mempunyai zat kimia sedangkan sawi yang tidak dimakan ulat adalah sawi yang banyak mengandung bahan kimia. Ulat saja tidak mau makan makanan yang ada bahan kimianya. Kenapa kita manusia tidak?” ujar bapak Domi.

Menurutnya, hasil panen selama bertani tanpa menggunakan bahan kimia selalu maksimal. Bahkan hasil panen dari dua tahun lalu masih ada hingga sekarang karenanya bapak Domi bersama keluarga selalu makan hasil panen sendiri dan jarang membeli beras. Selain untuk konsumsi, bapak Domi pernah menyumbangkan jagungnya kepada kelompok tani Situ Wolo sebagai bibit untuk ditanam di kebun kelompok. Beliau tidak pernah absen mengunjungi kebunnya. “Jika benar-benar mencintai kebun sendiri, harus selalu mengujunginya agar kebun kita bisa memberikan hasil panen yang maksimal. Sama seperti kita memikat hati wanita. Kalau kita terus mendatangi wanita yang kita suka maka dia akan membuka hatinya untuk kita.” Demikian filosofi Bapak Domi dalam bertani selama ini. *** (Penulis: Ardi Boleng/Editor: Avilla Riwu)

Tags: mulsapertanian adaptif kekeringanpertanian regeneratifPerubahan Iklim

Related Posts

Menabung Iman, Menuai Kemandirian: Kisah SILC Sorong Hode Lewo Menghimpun Aset Rp35 Juta
Program YPPS

Menabung Iman, Menuai Kemandirian: Kisah SILC Sorong Hode Lewo Menghimpun Aset Rp35 Juta

Literasi Maju, Desa Berkembang: Perpustakaan Waibao Jadi yang Terbaik di Flores Timur
Campaign

Literasi Maju, Desa Berkembang: Perpustakaan Waibao Jadi yang Terbaik di Flores Timur

Suara KB dari Pengungsian: Perjuangan Mama Yana di Desa Nobo
Campaign

Suara KB dari Pengungsian: Perjuangan Mama Yana di Desa Nobo

Dari Kebun, Dapur, Pasar, hingga Panggung
New Post

Dari Kebun, Dapur, Pasar, hingga Panggung

Robertus Rota Hage, Petani Tangguh yang Kini Menjadi Pemimpin KSB Ditengah Bencana Erupsi Gunung
New Post

Robertus Rota Hage, Petani Tangguh yang Kini Menjadi Pemimpin KSB Ditengah Bencana Erupsi Gunung

Dari Tsunami ke Bengkel Las: Perjalanan Hery Membangun Waibao
Campaign

Dari Tsunami ke Bengkel Las: Perjalanan Hery Membangun Waibao

Next Post
Upaya Budidaya Pohon Sayur Kehue

Upaya Budidaya Pohon Sayur Kehue

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Menabung Iman, Menuai Kemandirian: Kisah SILC Sorong Hode Lewo Menghimpun Aset Rp35 Juta

Menabung Iman, Menuai Kemandirian: Kisah SILC Sorong Hode Lewo Menghimpun Aset Rp35 Juta

Literasi Maju, Desa Berkembang: Perpustakaan Waibao Jadi yang Terbaik di Flores Timur

Literasi Maju, Desa Berkembang: Perpustakaan Waibao Jadi yang Terbaik di Flores Timur

Keterbukaan Puskesmas dalam Menerima Umpan Balik Masyarakat dalam Layanan Kesehatan Reproduksi di Kabupaten Flores Timur  

Keterbukaan Puskesmas dalam Menerima Umpan Balik Masyarakat dalam Layanan Kesehatan Reproduksi di Kabupaten Flores Timur  

Instagram Facebook Twitter Youtube
Kawan YPPS

Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Kabupaten Flores Timur

© 2022 - YPPS Kabupaten Flores Timur

No Result
View All Result
  • Home
  • Program YPPS
  • News
  • Profil YPPS
    • Sejarah
    • Kemitraan
    • Kondisi Terkini

© 2022 - YPPS Kabupaten Flores Timur